HAK SANAK SAUDARA
Pemateri : Ustadz Fachry Permana
Sanak saudara yang memiliki ikatan
secara langsung kepada anda, seperti: saudara kandung, paman dari bapak dan ibu
dan anak-anak mereka dan semua yang memiliki hubungan dengan anda mereka
memiliki hak karena adanya hubungan kekerabatan, Allah ta'ala berfirman:
وَآتِ
ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
"Dan berilah kepada kaum kerabat
hak-haknya." (Al Isra': 26).
وَاعْبُدُواْ
اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي
الْقُرْبَى
"Dan beribadahlah kalian kepada
Allah dan janganlah kalian mensekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan kepada kedua
orang tua berbuat baiklah dan (juga) kepada kaum kerabat." (An Nisa: 36).
Wajib bagi seseorang untuk menyambung
silaturrahim dengan sanak saudaranya dengan cara yang ma'ruf dengan memberikan
manfaat kedudukan, jiwa dan hartanya sesuai dengan kuatnya hubungan kekerabatan
dan tuntutan yang ada. Inilah yang dituntut oleh syariat, akal dan fitrah.
Banyak dalil yang menganjurkan
silaturrahim terhadap sanak saudara dan janji yang menggembirakan atas
perbuatan tersebut. Dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى
إِذَا فَرَغَ مِنْ خَلْقِهِ قَالَتْ الرَّحِمُ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ
الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ
مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَهُوَ لَكِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ
"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk,
setelah selesai berdiri tegaklah rahim seraya berkata: "Ini adalah tempat
orang yang berlindung kepada-Mu untuk tidak memutuskan silaturrahim",
Allah berfirman: "Ya, tidakkah engkau ridha Aku menyambungkan orang yang
menyambungkanmu (silaturrahmi) dan memutuskan orang yang memutuskanmu",
dia berkata: "Ya", Dia berfirman: "Itu adalah untukmu". Kemudian bersabdalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, bacalah jika kalian suka:
فَهَلْ
عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا
أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى
أَبْصَارَهُمْ
"Maka apakah kiranya jika kamu
berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan
kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya
telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka." (Muhammad: 22-23)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Siapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir maka hendaklah dia menyambung silaturrahim."
Banyak orang yang mengabaikan hak ini.
Ada di antara mereka yang tidak mengenal sanak saudaranya. Sekian hari dan
sekian bulan berlalu, mereka tidak melihatnya, tidak juga menziarahinya dan
tidak menumbuhkan kecintaan dengan pemberian hadiah, tidak juga menolak bencana
dengan membantu meringankan kesulitan mereka, bahkan justru ada yang berlaku
buruk terhadap sanak saudaranya baik dengan perkataan maupun perbuatan atau
dengan kedua-duanya, dia menyambung hubungan dengan yang jauh (bukan sanak
saudara) dan memutuskan yang dekat (sanak saudaranya).
Sebagian orang ada yang menyambangi
sanak saudaranya jika dia disambangi dan memutuskannya jika diputuskan, hal ini
pada hakikatnya bukanlah orang yang menyambung silaturrahim akan tetapi tak
lebih orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan, dan hal tersebut dapat
terjadi terhadap sanak saudara ataupun bukan karena hal tersebut bukan
merupakan kekhususan sanak saudara.
Orang yang sebenarnya menyambung
silaturrahim adalah mereka yang menyambung hubungan karena Allah ta'ala dan
tidak peduli apakah mereka menerimanya atau memutuskannya, sebagaimana terdapat
dalam hadits Bukhari dari Abdullah bin Amr bin 'Ash, bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ
الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ
وَصَلَهَا
"Bukanlah dinamakan orang yang
menyambung silaturrahim orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan, akan
tetapi orang yang apabila diputuskan hubungan silaturrahimnya dia
menyambungnya."
Dari Abu Hurairah, bahwasanya seseorang
bertanya kepada Rasulullah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي
وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ
عَلَيَّ فَقَالَ
"Ya Rasulullah sesungguhnya saya
punya seorang kerabat yang saya selalu menyambanginya tetapi dia memutuskan
hubungan dengan saya, saya berbuat baik terhadapnya tapi dia berbuat buruk
terhadap saya, saya selalu sopan terhadap mereka tapi mereka berlaku kasar
kepada saya", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا
تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا
دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ
"Seandainya kamu seperti apa yang
kamu katakan maka seakan-akan kamu sedang menyuapkan debu (ke mulutnya) dan
kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah atas mereka selama hal tersebut
terus terjadi." (HR.
Muslim).
Selain bahwa silaturrahim menjadikan
seseorang dekat kepada Allah ta'ala sehingga Dia melimpahkan rahmat-Nya
kepadanya di dunia dan akhirat, memudahkan segala urusannya dan dilepaskannya
dari segala kesulitan, silaturrahim juga menjadikan keluarga dekat satu sama
lain, saling mengasihi dan mencintai di antara mereka, tolong-menolong di
antara mereka baik saat sulit maupun saat bahagia, semua itu dapat diraih
berkat silaturrahim dan dapat diketahui berdasarkan pengalaman yang ada. Dan
sebaliknya akan terjadi, jika hubungan silaturrahim diputuskan atau jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar