Tampilkan postingan dengan label Khudz Aqidataka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khudz Aqidataka. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2017

Syarh Khudz Aqiidatak min Al-Kitab wa As-Sunnah Ash-Shohiihah 12

PASAL  XII
DO’A YANG MUSTAJAB
  
Bersabda Rasulullah:

“Tidaklah menimpa kepada seorang hamba kesusahan dan kesedihan kemudian dia berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

“Ya Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa) ubun-ubunku ditangan-Mu, hukum-Mu jatuh kepadaku, Qodho-Mu kepadaku adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama kepunyaan-Mu, yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari Makhluk-Mu atau yang Engkau simpan (rahasiakan) pada ilmu ghaib disisi-Mu, hendaklah Engkau jadikan Al-Qur’an itu sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penawar rasa sedihku, dan penghilang kesusahanku.”

Melainkan Allah akan menghilangkan kesusahannya dan kesedihan-nya dan Allah akan menggantikan keadaannya menjadi lapang. [HR Ahmad I/391]


Syarh Khudz Aqiidatak min Al-Kitab wa As-Sunnah Ash-Shohiihah 11

PASAL  XI
KAPAN KAUM MUSLIMIN MERAIH KEJAYAAN?


28.Kapan kaum muslimin akan meraih kejayaan?

Jawaban : Kaum muslim in akan meraih kejayaan, manakala mereka mau Kembali untuk menerapkan kitab Rabb mereka (Al-Qur'an) Dan sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam  (Al-Hadits), kemudian mereka menyebarkan Tauhid, menjauhi dan mewaspadakan ummat dari bahaya syirik dengan beragam bentuknya dan juga mempersiapkan diri mereka dengan berbagai komponen dan kemampuan yang ada untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Artinya: Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad:7)

Dan firman-Nya yang lain:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا
Artinya: Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS An-Nuur:55)

Penjelasan :

Ini adalah konsepnya, sebuah konsep ilahiyyah yang pasti dijamin kebenarannya. Terlebih telah dibuktikan kebenarannya oleh generasi terdahulu kita (generasi salaf), mereka benar-benar telah meraih kejayaan. Apalagi ketika masa khilafah Umar bin Khoththob, wilayah kekuasaan Islam tersebar sampai melampaui jaziratul 'Arab.

Tauhid tersebar dimana-mana, keadilan, penegakkan hukum, perlindungan terhadap hak-hak manusia, rasa aman dan kesejahteraan hampir bisa dirasakan oleh segenap kaum muslimin ketika itu.

Kalau kita mau menelisik dengan cermat dan obyektif apa yang menjadikan mereka itu berjaya, bukan sekedar kemajuan dibidang Iptek dan ekonomi namun lebih dari pada itu (yang sifatnya materi) mereka telah mengejawantahkan kandungan Al-Qur'an dan Al-Hadits dengan Tauhid sebagai prioritas Da'wah dan pedoman hidupnya.

Oleh karena itu sebagai kata kesimpulan, alangkah tepatnya kalau kita dengungkan berkali-kali ucapan Imam Malik :
لاَ يَصْلُحُ اَچِرُ هَذَهُ اْلأُمَّةِ اِلاٌ بِمَا صَلُحَ بِهِ اَوْلُهَا
“Akhir umat ini tidak akan baik dan berjaya melainkan dengan apa yang telah menjadikan baik dan berjaya generasi terdahulunya."


Syarh Khudz Aqiidatak min Al-Kitab wa As-Sunnah Ash-Shohiihah 10

PASAL  X
AS-SUNNAH VS BID’AH


28.Apakah dalam agama ini ada bid’ah hasanah (yang baik)?

Jawaban : Tidak ada bid’ah hasanah.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
Artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS Al-Maidah:3)

Dan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Artinya: Jauhilah oleh kalian semua yang diada adakan, karena semua yang diada adakan itu bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat, sedangkan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka. [HR Ahmad]


29.Apa yang dimaksud bid’ah dalam agama (Islam) itu?

Jawaban : Bid’ah dalam agama (Islam) ialah menambah atau mengurang-ngurangi ajaran agama.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman mengingkari bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ
Artinya: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS Asy-Syuraa:21)

Bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: Barang siapa yang mengada-adakan dalam perkara kami ini, apa yang bukan darinya maka ia tertolak. [Muttafaqun ‘Alaih, Muslim 5/132 (1242)]


30.Apakah dalam Islam ada “Sunnah Hasanah” (sunnah yang baik)?

Jawaban : Ya, (seperti menampakkan, menghidupkan kembali atau mencontohkan suatu perbuatan yang disyariatkan dan terpuji menurut agama Islam kepada orang lain agar orang lain tergugah hatinya dan mau mengikutinya dalam melakukan perbuatan tersebut. Jadi bukan bid’ah yang kemudian dianggap baik. )

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: Dan jadikanlah aku imam untuk orang-orang yang bertaqwa (QS Al-Furqaan:74)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ
Artinya: Barang siapa yang melakukan sesuatu perbuatan yang baik (sunnah hasanah) dalam Islam, maka baginya pahala dari perbuatanya dan pahala dari orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. [Muttafaqun ‘Alaih, HR Muslim 8/61 (1868) – 8/62 (1869)]

Penjelasan :

Yang dimaksud dengan "sanna sunnah hasanah" (sunnah yang baik) itu ialah menampakkan, menghidupkan kembali atau mencontohkan suatu perbuatan yang disyari'atkan dan terpuji menurut agama Islam kepada orang lain agar orang lain tergugah hatinya dan mau mengikutinya dalam melakukan perbuatan tersebut Jadi bukan sebagaimana yang difahami oleh sebagian orang yang gandrung dan suka melestarikan bid'ah, mereka memahami "sanna sunnah hasanah" itu dengan mengadakan atau menciptakan bid'ah hasanah. Lalu mereka akhirnya membagi Bid'ah menjadi 2 yaitu :

1.      Bid'ah hasanah atau bid'ah mahmudah (bid'ah yang baik atau bid'ah yang terpuji).
2.      Bid'ah sayyi'ah atau bid'ah madzmuumah (bid'ah yang jelek atau bid'ah yang tercela).

Mereka salah kaprah dalam memahami hadits tersebut. Sekali lagi pengertian "sanna sunnah hasanah" itu tidak bisa tidak harus difahami dengan mencontohkan perbuatan, yang baik menurut Islam kepada orang lain, karena hal ini sesuai dengan sababul wuruudil hadits (sebab yang melatar belakangi keluamya hadits itu) yaitu adanya riwayat lain dalam kitab Sunan Ad-Daarimiy (11141) hadits no. 514, disitu disebutkan :

Dari Jarir bin Abdulloh radhiyallahu anhu dia berkata :
خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَأَبْطَئُوا حَتَّى بَانَ فِي وَجْهِهِ الْغَضَبُ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرَّةٍ فَتَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ السُّرُورُ فَقَالَ مَنْ سَنَّ سُنَّةً ....
"Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam  pemah berkhutbah kepada kami, lalu beliau memberi semangat kepada manusia untuk bersedekah akan tetapi mereka berlambat-lambat untuk bersedekah sampai-sampai nampak kemarahan diwajah beliau kemudian datanglah seorang Anshor dengan sekantung (sedekah) lalu orang-orang (bersedekah) mengikutinya sehingga nampak keceriaan wajah beliau, maka beliaupun bersabda : "Barang siapa yang mencontohkan perbuatan yang baik. .. " (dan seterusnya sampai akhir hadits)."

Jadi hadits tersebut keluar berkaitan dengan masalah sedekah yang disyari'atkan. Ditambah lagi hadits tadi keluar dari lisan seorang yang tidak sekali dua kali tapi sering sekali mewanti-wanti umatnya dengan mengatakan :

وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
"Dan setiap bid'ah itu adalah sesat sedangkan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka." (Hadits riwayat Ahmad).

Jadi tidak mungkin "Sunnah Hasanah" diartikan "Bid'ah Hasanah", karena sudah jelas setiap bid'ah itu adalah sesat dan jelek tidak ada yang baik. Jika tidak, berarti kita menganggap pada sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam  itu ada yang kontradiksi dan ini adalah mustahil.

Sebagai saran saya kepada pembaca, untuk mendapatkan pengetahuan mengenai masalah bid'ah silahkan dikaji kitab-kitab :

  1. "Ilmu Ushulul Al-Bida’"
Karya : Syeikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari.
Dan sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul "Membedah Akar Bid'ah".
Oleh : Asmuni Sulihan Zamakhsyari.
Terbitan : Pustaka AI-Kautsar.

  1. "Al-Luma' Fii Ar-Rodd 'alaa Muhassin Al-Bida'"
Karya : Abdul Qoyyum Muhammad As-Sahibani
Dan sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul "Mengapa Anda Menolak Bid'ah Hasanah?"
Oleh : Abu Hafs Muhammad Tasyrif Asbi Al-Ambony S.Ag.
Terbitan : Pustaka At-Tibyan.


Syarh Khudz Aqiidatak min Al-Kitab wa As-Sunnah Ash-Shohiihah 9

PASAL  IX
WAJIB MENGAMALKAN AL-QUR’AN & AL-HADITS

       
28.Untuk apa Allah Subhanahu wata’ala menurunkan Al-Qur’an?

Jawaban : Allah Subhanahu wata’ala menurunkan Al-Quran untuk diamalkan.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
Artinya: Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan ikuti pemimpin selainNya (Qs Al-A’raaf:3)

Dan bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
اِقْرَءُوا الْقُرْاَنَ وَاعْمَلُوْا بِهِ وَلاَ تَأْ كُلُوا بِهِ
Artinya: Bacalah Al-Qur’an dan amalkanlah (kandungannya), dan jangan engkau mencari makan dengannya (menyelewengkan / merubah-rubah demi keuntungan duniawi). [HR Ahmad]


29.Apa hukumnya beramal dengan hadits yang shahih?

Jawaban: Hukum mengamalkan hadits yang shahih adalah wajib.

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala :
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. (QS Al-Hasyr:7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:
عَلَيْكُمْ  بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا
“Berpegang teguhlah kamu dengan sunnahku dan sunnah-sunnah para khalifahku yang telah mendapat petunjuk sepeninggalku, berpegang teguhlah dengannya.” [HR Ahmad]

Penjelasan :

Hadits shohih adalah hadits yang bisa dijadikan hujjah (dalil) dan wajib diamalkan. Adapun hadits shohih itu harns memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1)     Ittishoolus-Sanad (sanadnya bersambung).
Maksudnya : Bahwa setiap rowi (orang yang meriwayatkan hadits) mengambil hadits dari rowi lain diatasnya secara langsung, mulai dari sanad pertama (mudawwin : semisal Bukhoriy) sampai sanad terakhir (sahabat).

2)     'Adalatur-Ruwaat (rowi-rowinya adil).
Maksudnya : bahwa setiap rowinya haruslah seorang muslim, berakal sehat, baligh, tidak fasiq dan tidak melakukan tindakan yang mencemarkan muru'ah (citra) nya.

3)     Dlobthur-Ruwaat (rowi-rowinya memiliki hafalan yang kuat dan mantap). Atau memiliki catatan-catatan hadits yang dapat dipertanggung jawabkan keotentikannya.

4)     ’Adamusy-Syudzuudz (haditsnya tidak syadz / janggal).
Maksudnya: haditsnya tidak menyelisihi hadits lain yang diriwayatkan oleh rowi-rowi yang lebih kuat dan lebih terpercaya.

5)     'Adamul-'Illah (tidak ada cacat dalam haditsnya).
Yang dimaksud dengan cacat disini ialah faktor-faktor tersembunyi yang menyebabkan sebuah hadits menjadi tidak shohih karenanya, dan tentunya yang mengetahuinya hanyalah seorang pakar hadits, sementara bagi orang awam hal itu tidak kentara.

(Dinukil/diterjemahkan secara bebas dari kitab : Taisir Mushtholahul Hadits, karya : DR. Mahmud Thohhan. cet. Darul-Fikr. hal: 30)

Al-Khulafaaur-Roosyiduun.

·         Al-Khulafaa' bentuk jamak dari Al-Kholiifah artinya pengganti. maksudnya pengganti Rosullilloh shallallahu ‘alaihi wasallam  dalam memegang tampuk kepemimpinan di Madinah, mereka itu adalah : Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khoththob, Utsman bin 'Affan dan 'Ali bin Abi Tholib raa. Dan mereka itulah sebagai representasi (perwakilan) dari sahabat-­sahabat yang lainnya.
·         Ar-Roosyiduun, bentuk jamak dan Ar-Rosyiid, yaitu orang yang lurus yang mendapatkan petunjuk.

       
30.Apakah boleh kita mencukupkan diri dengan Al-Quran saja tanpa al-Hadits?

Jawaban : Tidak boleh.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
Artinya: Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada (QS An Nahl : 44)

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam  bertugas menerangkan Al-Qur’an dengan hadits­-haditsnya, lalu bagaimanakah gerangan seandainya Al-Qur'an itu tanpa Al-Hadits?! (pent).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:
أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi wahyu Al Quran dan yang semisal Al-Quran  bersamanya yaitu Al-Hadits. [HR Abu Dawud 4604]

       
31.Apakah boleh kita mendahulukan ucapan seseorang daripada firman Allah Subhanahu wata’ala dan sabda Rasul-Nya?

Jawaban : Tidak boleh.

Berdasarkan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya (QS Al-Hujurat:1)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقِ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
Tidak ada ketaatan untuk seseorang dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wata'ala, tiada lain ketaatan itu ada dalam hal yang baik. [HR Tabhrani]

Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu berkata:
اَخْشَى اِنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ اَقُوْلُ لَكُمْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَتَقُوْلُوْنَ قَالَ اَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ
‘Aku khawatir kalian akan dihujani batu dari langit (ketika) aku katakan kepada kalian: Telah bersabda Rasulullah, lantas kalian (membantahnya dengan) mengatakan Telah berkata Abu Bakar dan Umar.’ [HR Ahmad]

       
32.Apa yang harus kita lakukan jika kita berselisih pendapat?

Jawaban : Kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang Shahih.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Artinya: Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa:59)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku telah tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh dengan keduanya yaitu  kitab Allah Subhanahu wata’ala dan sunnah rasulNya..
عَلَيْكُمْ  بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا
Rasulullah bersabda: “Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-khulafaa ‘ur-Raasyidiin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kalian dengannya (kedua sunnah tsb)”


33.Bagaimana kita mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul Shallallahu'alaihi wasallam ?

Jawaban : Kita mencinta dengan cara mentaati dan mengikuti perintah-perintah keduanya.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Katakanlah: jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs Ali Imran:31)

Bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: Tidaklah beriman seorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai dari pada cintanya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. [Muttafaq alaih, Muslim 1/49 (23)]
       
       
34.Apakah kita boleh kita meninggalkan amal (usaha/ikhtiyar) dan pasrah terhadap takdir?

Jawaban : Tidak boleh.

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala :
فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى
Artinya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (QS Al-Lail:5-7)

Rasulullah bersabda:
اعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Berusahalah kalian karena setiap orang itu akan dimudahkan terhadap apa yang telah ditaqdirkan baginya.” [Muttafaqun ‘Alaih, Muslim 8/46-47 (1853)]

Kita harus mengimani dan menetapkan adanya taqdir, yang dituntut dan kita adalah berusaha maksimal kemudian bertawakkal kepada AlIoh, tentang bagaimana hasilnya terserah Allah karena itu adalah rahasia ilmu-Nya sedangkan kita semua tidak ada yang tahu tentang taqdir kita dimasa yang akan datang, oleh karena itu sekali lagi kita harus berusaha, tidak ada pilihan lain.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Hasyr: 18).


Syarh Khudz Aqiidatak min Al-Kitab wa As-Sunnah Ash-Shohiihah 8

PASAL  VIII
JIHAD, AL-WALA’ DAN BERHUKUM


28.Apa hukum jihad dijalan Allah Subhanahu wata'ala?

Jawaban : Jihad hukumnya wajib, baik dengan harta, jiwa maupun dengan lisan.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
انْفِرُواْ خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ
Artinya: Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. (QS At-Taubah:41)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  pun bersabda:
جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
Artinya: Perangilah orang-orang musyrikin dengan harta kalian, jiwa kalian dan lidah kalian. [HR Abu dawud 2504]

       
29.Apa yang dimaksud al-Wala’ (loyaliyas)?

Jawaban : Al-Wala’ adalah rasa cinta dan pemberian pertolongan (loyalitas).

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ
Artinya: Orang beriman laki dan perempuan sebagian mereka sebagai penolong sebagian yang lainnya (QS At-Taubah:71)

Bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا.
Artinya: Orang mukmin bagi mukmin yang lainnya seperti satu bangunan (dimana) yang sebagian menguatkan sebagian yang lainnya. [HR Muslim 8/20 (1781)]

       
30.Apakah boleh berloyalitas kepada orang kafir dan menolong mereka?

Jawaban : Tidak boleh.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
Artinya: Barang siapa mengambil mereka sebagai penolong maka sesungguhnya dia termasuk dari golongan mereka (QS Al-Maidah:51)

Bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ اَلَ بَنِيْ فُلَانٍ لَيْسُوْا بِأَ وْلِيَاىِٔيْ
Artinya: Sesungguhnya keluarga bani fulan bukanlah mereka itu orang-orang yang berhak mendapat wala’ku (karena mereka kafir). [HR Ahmad]

Penjelasan :

Lawan dari Al-Wala' ialah Al-Barro' yaitu: memutus kecenderungan hati dari perasaan loyal dan cinta kepada orang-orang kafir dan orang­-orang musyrik dengan bukti tidak memberikan pertolongan kepada mereka.

Al-Wala' dan Al-Baro' menempati kedudukan yang amat tinggi dalam Islam, keduanya merupakan tali ikatan iman yang paling kokoh. Sebagaimana hal ini ditegaskan oIeh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  :
أَوْ ثَقُ عُرَى الْاِ يْمَانِ اَلْحُبَّ فِيْ اللِّهِ وَالْبُعْضُ فِيْ اللِّهِ
“Tali ikatan iman yang paling kokoh ialah cinta dan benci karena Allah." (Hadits riwayat Ibnu Jarir).

Dalam riwayat yang lain dari Ibnu Abbas, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

Barang siapa yang cinta dan benci karena Allah serta berteman akrab dan bermusuhan karena Allah, maka ia akan meraih Cinta Kasih Allah, dan searang hamba tidak akan mendapatkan manisnya iman walaupun banyak sekali shalatnya dan puasanya sehingga ia dalam keadaan seperti itu (berwala' dan berbaro' karena Allah). Dan sungguh kebanyakan persaudaraan yang dijalin aleh manusia adalah karena tendensi duniawi sedangkan yang demikian itu tidaklah bermanfaat bagi pelakunya sedikitpun. " (Hadits riwayat Thobroniy).

Lantas kepada siapakah kita berwala'?, kita berwala' kepada Allah, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an, surat Al-Maidah ayat : 55. Namun sangat disayangkan sekali apabila kita cermati keadaan kaum muslimin dewasa ini, mereka sangat buta terhadap pelajaran Al-Wala' dan Al-Baro' ini terlebih dalam penerapannya.

Diperparah lagi dengan sikap tokoh-tokohnya yang nyeleneh yang mengatas-namakan kaum intelektual muslim, mereka bergandeng tangan mesra dengan gembong-gembong zionis dan salibis, dengan dalil demi tegaknya HAM-lah, tuntutan politik-lah, demi kerukunan-lah, demi inilah demi itulah dan sebagainya yang tanpa dibenarkan sedikitpun oleh dalil AI-Qur'an, As-Sunnah dan apa yang dipahami oleh generasi terdahulu yang sholeh.

Akhirnya masyarakat yang notabene kebanyakan awwam ini dibuat bingung, kepada siapakah mereka harus berwala' dan berbaro', tidak mengenal mana kawan mana lawan.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada umat ini untuk tidak mengikuti tokoh-tokoh mereka yang jauh dari petunjuk-Nya.

       
31.Siapakah wali (Allah) itu?

Jawaban : Wali Allah adalah orang yang benar-benar beriman lagi bertaqwa. 

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ
Artinya: Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran ter-hadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus:62-63)

Dan bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّمَا وَلِيِيُ الله صَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: Sesungguhnya waliku itu hanyalah Allah Subhanahu wata’ala dan orang shalih dari kalangan orang-orang beriman. [HR Ahmad]

Penjelasan :

Yang dinamakan Wali Allah menurut Allah ialah orang yang tinggi derajat iman dan taqwanya yaitu dari kalangan ahli tauhid dan ahli As­ Sunnah bukan dari kalangan ahli kufur, ahli syirik, ahli bid'ah dan ahli ma'shiyat.

Allah (dalam Al-Qur'an) tidak mensyaratkan karomah (kehebatan diluar kemampuan manusia) bagi diri seorang wali-Nya. Tetapi kadang­-kadang Allah menganugerahi karomah kepada siapa yang Dia kehendaki dari kalangan wali-wali-Nya, semisal karomahnya Maryam yaitu dia selalu mendapati hidangan makanan di mihrobnya dari sisi Robbnya. (lihat QS Ali-Imron : 37).

Adapun istilah Wali Allah kalau menurut sangkaan sebagian orang ialah seseorang yang memiliki kehebatan semisal tidak mempan senjata tajam, bisa terbang, bisa berjalan diatas pennukaan air dan sebagainya walaupun orang itu ahli syirik, ahli bid'ah atau ahli ma'shiyat, maka jelas ini adalah persepsi yang keliru. Kalaupun memiliki kehebatan, itu bukanlah karomah, tapi itu adalah sihir dari syetan-syetan jin, tentunya atas kehendak Allah sebagai istidroj (kemudahan-kemudahan atau sarana yang dengan itu justeru ia semakin sombong dan bertambah dosa dan kesesatannya) baginya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala  :
قُلْ مَن كَانَ فِي الضَّلَالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَنُ مَدًّا
"Katakanlah : "Barang siapa yang berada didalam kesesatan maka biarlah (Allah) Yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya." (QS Maryam : 75)

Dengan demikian dia sebenamya bukan wali Allah , tapi “Wali­ Syetan".


32.Dengan apakah kaum muslimin itu berhukum?

Jawaban : Mereka wajib menghukumi dengan Al Quran dan Al-Hadits yang shahih.

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Artinya: Dan siapa yang tidak berhukum dengan apa  yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang kafir. (QS Al-Maidah: 44)

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ
Artinya: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, (QS Al-Maidah: 49)

Bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَكَمُ وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ فَلِمَ تُكْنَى
Artinya: Allah Subhanahu wata'ala adalah penentu hukum, dan kepada-Nya tempat kembali. [HR Abu Dawud 4955, An-Nasa'i 5387]
عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ
Rasulullah bersabda: “Wahai Dzat yang Maha Mengetahui yang ghoib dan yang tampak, Engkaulah yang memutuskan perkara diantara hamba-hamba-Mu.” [HR Muslim]

Penjelasan :

Al-Qur'an dan Al-Hadits sama-sama wajib diberlakukannya, karena keduanya merupakan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala . Berdasarkan firman-Nya :
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya ltu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS An-Najm : 3-4).